Jumat, 28 November 2008

Tentang saya

Sebagai staf pengajar di STIKep Muhammadiyah Pontianak, pendidikan keperawatan yang pernah ditempuh yaitu D. III. Keperawatan di Akper Muhammadiyah Pontianak 1997, S1 Kesehatan Masyarakat di Fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Muhammadiyah Pontianak tahun 2003, sekarang ini sedang melanjutkan program Pasca Sarjana di FIK Kekhususan Kepemimpinan dan Manajemen Keperawatan.

Rabu, 26 November 2008

Pendidikan Kesehatan

A. Pengertian

Istilah pendidikan kesehatan telah dirumuskan oleh para ahli pendidikan kesehatan dalam berbagai pengertian, tergantung pada sudut pandang masing-masing. Berikut ini akan dikemukan beberapa pengertian pendidikan kesehatan yang dikemukakan oleh para ahli :

Wood (1926 dalam Suliha 2002. hal 1) mengemukakan bahwa pendidikan kesehatan sebagai sekumpulan pengalaman yang mendukung kebiasaan, sikap, dan pengetahuan yang berhubungan dengan kesehatan individu, masyarakat dan ras

Nyswander (1947) yang dikutip oleh Notoatmodjo (1997) menyatakan bahwa pendidikaan kesehatan adalah proses perubahan perilaku yang dinamis, BUKAN proses pemindahan materi dari seseorang ke orang lain dan BUKAN pula seperangkat prosedur.

Hal ini dapat dilihat dari definisi yang dikemukakan :

“Pendidikan kesehatan suatu proses prubahan pada diri seseorang yang dihubungkan dengan pencapaian tujuan kesehatan individu, dan masyarakat. Pendidikan kesehatan tidak dapat diberikan kepada seseorang oleh orang lain, bukan seperangkat prosedur yang harus dilaksanakan atau suatu produk yang harus dicapai, tetapi sesungguhnya merupakan suatu proses perkembangan yang berubah secara dinamis yang didalam nya seseorang menerima atau menolak informasi, sikap, maupun praktek baru yang berhubungan dengan tujuan hidup sehat”

B. Tujuan

1. Tercapainya perubahan perilaku individu, keluarga dan masyarakat

dalam membina dan memelihara perilaku sehat dan lingkungan sehat, serta berperan aktif dalam upaya mewujudkan derajat kesehatan yang optimal

2. Terbentuknya perilaku sehat pada individu, keluarga, kelompok dan masyarakat yang sesuai dengan konsep hidup sehat baik fisik, mental dan sosial sehingga dapat menurunkan angka kesakitan dan kematian

3. Menurut WHO tujuan penyuluhan kesehatan adalah untuk merubah perilaku perseorangan dan atau masyarakat dalam bidang kesehatan

WHO 1954 dalam Notoatmodjo 1997 memperinci tujuan pendidikan kesehatan sebagai berikut

a. Menjadikan kesehatan sebagai sesuatu yang bernilai dimasyarakat

b. Menolong individu agar mampu secara mandiri atau berkelompok mengadakan kegiatan untuk mencapai tujuan hidup sehat

c. Mendorong pengembangan dan penggunaan secara tepat sarana pelayanan kesehatan yang ada

Secara Operasional, tujuan pendidikan kesehatan diperinci oleh WONG (1974) yang dikutip TAFAL 1984 dalam Uha Suliha, dkk sebagai berikut :

1. Agar penderita (masyarakat) memiliki tanggung jawab yang lebih besar pada kesehatan (dirinya), keselamatan lingkungan, dan masyarakatnya

2. Agar orang melakukan langkah-langkah positif dalam mencegah terjadinya sakit, mencegah berkembangnya sakit menjadi lebih parah dan mencegah keadaan ketergantungan melalui rehabilitasi cacat yang disebabkan oleh penyakit

3. Agar orang memiliki pengertian yang lebih baik tentang eksistensi dan perubahan-perubahan sistem dan cara memanfaatkannya dengan efisien dan efektif

4. Agar orang mempelajari apa yang dapat dia lakukan sendiri dan bagaimana caranya tanpa selalu meminta pertolongan kepada sistem pelayanan kesehatan yang formal.

C. Sasaran

Sasaran penyuluhan kesehatan mencakup individu, keluarga, kelompok dan masyarakat

1. Individu

Individu yang mempunyai masalah keperawatan dan kesehatan, yang dapat dilakukan di RS, klinik, puskesmas, rumah bersalin, posyandu, keluarga binaan dan masyarakat binaan

2. Keluarga

Keluarga binaan yang mempunyai masalah keperawatan dan kesehatan yang tergolong dalam keluarga Resiko tinggi, diantaranya adalah :

a. Anggota keluarga yang menderita penyakit menular

b. Keluarga dengan sosial ekonomi dan pendidikan yang rendah

c. Keluarga dengan masalah sanitasi lingkungan yang buruk

d. Keluarga dengan masalah gizi buruk

e. Keluarga dengan jumlah anggota keluarga yang banyak di luar kemampuan kapasitas keluarga

3. Masyarakat

  1. Masyarakat binaan Puskesmas
  2. Masyarakat nelayan
  3. Masyarakat pedesaan
  4. Masyarakat yang datang ke institusi pelayanan kesehatan seperti Puskesmas, Posyandu yang diberikan pendidikan kesehatan secara massal
  5. Masyarakat luas yang terkena masalah kesehatan seperti wabah DHFdan Muntaber

D. Tahap-Tahap kegiatan

Kegiatan pendidikan kesehatan harus melalui tahap-tahap yang hati-hati secara ilmiah. Hanlon (1964) seperti yang dikutip Azwar (1983) mengemukakan tahap-tahap sebagai berikut :

1. Tahap sensitisasi

memberikan informasi dan kesadaran pada masyarakat terhadap

adanya hal-hal penting berkaitan dengan kesehatan

2. Tahap Publisitas

Tahap ini adalah kelanjutan dari sensitisasi. Bentuk kegiatan

misalnya press release dikeluarkan Depkes untuk menjelaskan

lebih lanjut jenis atau macam pelayanan kesehatan yang diberikan

pada fasilitas pelayanan kesehatan

3. Tahap Edukasi

untuk meningkatkan pengetahuan, mengubah sikap serta mengarahkan kepada perilaku yang diinginkan oleh kegiatan tersebut

4. Tahap Motivasi

perorangan atau masyarakat setelah mengikuti pendidikan kesehatan benar-benar mengunah perilaku sehari-harinya sesuai dengan perilaku yang dianjurkan oleh pendidikan kesehatan pada tahap ini

E. Hasil yang diharapkan

Terjadinya perubahan sikap dan perilaku dari individu, keluarga, kelompok khusus, dan masyarakat untuk dapat menanamkan prinsip – prinsip hidup sehat dalam kehidupan sehari – hari untuk mencapai derajat kesehatan yang optimal

F. Ruang lingkup pendidikan kesehatan

Ruang lingkup pendidikan kesehatan dapat dilihat dari berbagai dimensi

Antara lain (Uha Suliha, dkk tahun 2002) yaitu dimensi sasaran pendidikan

kesehatan, tempat pelaksanaan pendidikan kesehatan dan tingkat pelayanan pendidikan Kesehatan

  1. Sasaran pendidikan kesehatan, ruang lingkupnya

a) Pendidikan kesehatan individual dengan sasaran individu

b) Pendidikan kesehatan kelompok dengan sasaran kelompok

c) Pendidikan kesehatan masyarakat dengan sasaran masyarakat

2. Tempat pelaksanaan pendidikan kesehatan

a) Pendidikan kesehatan di sekolah dilakukan disekolah dengan sasaran murid pendidkkan kesehatan dipelayanan kesehatan

dilakukan di Puskesmas, balai kesehatan, Rumah sakit

b) Pendidikan kesehatan di tempat-tempat kerja dengan sasaran buruh atau karyawan

3. Tingkat pelayanan pendidikan kesehatan, di bagi

menjadi lima tingkat pencegahan (five levels of prevention) dari Leavel dan Clark, yaitu :

a. Health Promotion

b. Specific Protection

c. Early diagnosis and prompt treatment

d. Disability limitation

e. rehabilitation

G. Faktor – faktor yang harus diperhatikan dari sasaran pendidikan

kesehatan

  1. Tingkat pendidikan
  2. Tingkat SOSEK
  3. Adat istiadat
  4. Kepercayaan masyarakat
  5. Ketersediaan waktu dari masyarakat

H. MATERI / PESAN

  1. Menggunakan bahasa yg mudah dimengerti msy dlm bhs keseharian
  2. Materi yg di sampaikan tdk terlalu sulit untuk dimengerti
  3. Menggunakan alat peraga
  4. Materi / pesan merupakan kebutuhan sasaran dlm masalah kes. Atau keperawatan

I. Beberapa istilah yang berkaitan dengan pendidikan kesehatan

a. Penerangan kesehatan

ialah upaya memberikan penjelasan atau mnyebarluaskan pesan kepada perorangan, kelompok atau masyarakat untuk menumbuhkan perhatian, pengertian dan kesadaran mengenai perilaku sehat atau kehidupan yang sehat Kegiatan ini berlangsung satu arah (one way traffic/one way method). Tidak ada kesempatan tanya jawab

b. Penyuluhan Kesehatan

ialah kegiatan pendidikan kesehatan yang dilakukan dengan menyebarkan pesan, menanamkan keyakinan, sehingga masyarakat tidak hanya sadar, tahu dan mengerti tetapi juga mau dan bisa melakukan suatu anjuran yang ada hubungannya dengan kesehatan (Azwar, 1983 dalam Ircham Machfoedz, dkk ; 2005)

c. Komunikasi, Informasi dan Edukasi (KIE)

Di sini sistem pendidikannya lebih sistematis, yakni di mulai dengan komunikasi, dilanjutkan dengan informasi, akhirnya edukasi. Istilah ini sering digunakan pada kegiatan kependudukan dan keluarga berencana

d. Promosi Kesehatan

Promosi kesehatan ialah proses memandirikan masyarakat agar dapat memelihara dan meningkatkan kesehatannya (Ottawa Charter, 1986)

Istilah promosi kesehatan digunakan oleh Leavel dan Clark dalam bukunya “prevention Medicine for the Doctor in his community”

Untuk menjelaskan dimensi tingkat pelayanan kesehatan di masyarakat

Dikenal dengan istilah five level prevention

Sebelum sakit : health promotion,specific protection

Setelah sakit : early diagnonis and promt treatment,disability limitation, rehabilitation

J. Kegagalan dalam penyuluhan

  1. Kurang lengkap info tentang audiens
  2. Kurang mengenali kultur dan budaya setempat
  3. Komunikasi searah
  4. Tehnik penyampaian kurang variatif
  5. Kurang melibatkan peserta
  6. Bahasa yg digunakan teknis dan formal

K. Prinsip-prinsip penyuluhan yg menyenangkan

  1. Paham kebutuhan peserta
  2. Peserta terlibat dalam satu atau lebih aktivitas
  3. Berbagi pengalaman
  4. Menggunakan banyak contoh

Bennis & Benne & Robert Chin (1999), The Planning of Change, 2nd Edition, New York : Halt Kinehart and Winston, Inc.

Craven & Hirnlie (2002), Fundamentals of Nursing Human Health and Function, 2nd Edition, Philadelphia : Lippincot.

Green (1989), Health Education Planning, a Diagnostic Approach, USA : Myfield Publishing Co.

Kozier, B (1988), Concepts & Issues in Nursing Practice, California, Addison Wesley Publishing Co

Machfoedz, Ircham, dkk, (2005), Pendidikan Kesehatan Bagian dari Promosi Kesehatan, Fitramaya, Jogyakarta

Notoatmodjo, Soekidjo,(2003), Pendidikan Kesehatan dan Ilmu Perilaku, Rineka Cipta, Jakarta.

Suliha, Uha, dkk, (2002), Pendidikan Kesehatan Dalam Keperawatan, EGC, Jakarta

Chronic Sorrow Theory

Pendahuluan

Teori Middle Range, merupakan level kedua dari teori keperawatan, abstraknya pada level pertengahan, inklusif, diorganisasi dalam lingkup terbatas, memiliki sejumlah varibel terbatas, dapat diuji secara langsung. Teori Middle-Range memiliki hubungan yang lebih kuat dengan penelitian dan praktik. Hubungan antara penelitian dan praktik menurut Merton (1968), menunjukkan bahwa Teori Mid-Range amat penting dalam disiplin praktik, selain itu Walker and Avant (1995) mempertahankan bahwa mid-range theories menyeimbangkan kespesifikannya dengan konsep ekonomi secara normal yang nampak dalam grand teori. Akibatnya mid-range teori memberikan manfaat bagi perawat, mudah diaplikasikan dalam praktik dan cukup abstrak secara ilmiah. Chinn dan

Kramer (1995, p 216) mengatakan bahwa mid-range theory sesuai dengan lingkup fenomena yang relatif luas tetapi tidak mencakup keseluruhan fenomena yang ada dan merupakan masalah pada disiplin ilmu.Contoh yang mewakili mid-range teori adalah teori meredakan nyeri dalam keperawatan. Teori ini lebih luas dari theori neural conduction terhadap rangsangan nyeri tetapi lebih sempit dari tujuan mencapai tingkat kesejahteraan yang lebih tinggi. Jadi fenomena nyeri terkait pada konsep mid-range pada keperawatan, karena nyeri adalah salah satu dari fenomena yg terdiri dari konsep global suatu disiplin.

Mid-range theories berfokus pada konsep peminatan perawat dan mencakup nyeri, empati, berduka, konsep diri, harapan, kenyamanan, martabat dan kualitas hidup. Contoh dalam keperawatan middle range theories adalah : Rogers’ Theory dari akselerasi perubahan, Roy’s Theory dari teori adaptasi,King’s Theory dari pencapaian tujuan.

Teori chronic sorrow merupakan teori mid-range karena dalam teori ini membahas tentang fenomena yang spesifik yaitu tentang masalah- masalah yang timbul dari penyakit kronis mencakup proses berduka, kehilangan, faktor pencetus dan metoda manajemennya. Karena kespesifikan teori tersebut, maka teori ini mudah diaplikasikan dalam praktik keperawatan.

Banyak penelitian yang telah dilakukan sebagai aplikasi teori ini terkait dengan penyakit kronik seperti pada pasien multiple sklerosi, diabetes mellitus pada anak, anemia sickle cell pada anak, epilepsy, sindrom down, spina bifida, dan lain-lain.

A. Konsep Utama dan Definisi Teori

1. Penderitaan/ duka cita kronis

Penderitaan/ duka cita kronis adalah suatu perbedaan yang berkelanjutan sebagai hasil dari suatu kehilangan, dengan karakteristik dapat menyebar dan bisa juga menetap. Gejala berduka berulang pada waktu tertentu dan gejala ini berpotensi progresif.

Studi NCRCS (The Nursing Consortium for Research on Chronic Sorrow) ini meliputi :

  1. Individu dengan kanker (Eakes, 1993), infertility (Eakes et al., 1998), Multiple Sclerosis (Hainsworth, Burke, Lindgren, & Eakes, 1993 ; Hainsworth, 1994), dan Penyakit Parkinson (Lindgren, 1996)
  2. Spouse caregivers/ individu yang memiliki pasangan hidup dengan penyakit mental kronik (Hainsworth, Busch, Eakes, & Burke, 1995), Multiple Sclerosis (Hainsworth, 1995), dan Penyakit Parkinson (Lindgren, 1996)
  3. Parent caregivers/ orang tua yangmemiliki anak dewasa dengan penyakit mental kronik (Eakes, 1995)

2. Kehilangan

Kehilangan terjadi akibat dari perbedaan antara suatu “ideal” atau harapan dan situasi nyata atau pengalaman.

Kehilangan (Loss) adalah situasi aktual atau potensial dimana seseorang atau objek yang dihargai tidak dapat dicapai atau diganti sehingga di rasakan tidak berharga seperti semula

3. Peristiwa Pencetus

Peristiwa pencetus adalah situasi, keadaan dan kondisi-kondisi berbeda atau perasaan kehilangan yang berulang (kambuh)atau baru mulai yang memperburuk perasaan berduka.

NCRCS membandingkan dan membedakan pencetus pada individu dengan kondisi kronik, family caregivers, pada orang yang kehilangan (Burke, Eakes, & Hainsworh, 1999).

4. Metode Manajemen

Metode manajemen adalah suatu cara bagaimana individu menerima penderitaan kronis. Bisa secara internal (strategi koping individu) atau eksternal (bantuan tenaga kesehatan atau intervensi orang lain).

Penderitaan kronis tidak akan membuat individu melemah bila efektif dalam mengatur perasaan bisa secara internal maupun ekternal. Strategi manajemen perawatan diri diatur melalui strategi koping internal. NCRCS ditunjuk lebih lanjut untuk mengatur strategi koping internal seperti tindakan, kognitif, interpersonal dan emosional

Mekanisme tindakan koping digunakan untuk semua subjek individu dengan kondisi kronis dan pemberi perawatannya. (Eakes , 1993, 1995, Eakes at al., 1993, 1999; Hainsworth et al., 1995; Lindgren, 1996),

Kognitif koping contohnya berpikir positif, membuat sesuatu dengan sebaik-baiknya, tidak memaksakan diri bila tidak mampu (Eakes, 1995; Hainsworth, 1994, 1995)

Contoh koping interpersonal adalah pergi memeriksakan diri ke psikiater, masuk dalam suatu kelompok atau group dan bicara atau berkomunikasi dengan orang lain (Eakes, 1993; Hainsworth, 1994, 1995)

Strategi emosional contohnya menangis atau ekspresi emosi lainnya (Eakes, et al., 1998; Hainsworth, 1995)

Manajemen eksternal adalah intervensi yang diberikan oleh tenaga kesehatan (Eakes et al., 1998). Pelayanan kesehatan yang diberikan secara profesional dapat membantu memberikan rasa nyaman bagi mereka, caring dan tenaga profesional yang kompeten lainnya.

B. Asumsi Utama

1. Keperawatan

Diagnosis penderitaan kronik dan memberikan intervensi sesuai dengan lingkup praktik keperawatan, perawat dapat memberikan antisipasi berduka pada individu yang beresiko. Peran utama perawat meliputi menunjukan rasa empati, ahli / profesional, caring dan pemberi asuhan keperawatan yang kompeten

2. Manusia

Manusia mempunyai persepsi yang idealis pada proses kehidupan dan kesehatan. Orang membandingkan pengalamanya dengan kedua kenyataan tadi sepanjang kehidupannya. Walaupun setiap orang pengalaman dengan kehilangan adalah unik dan umumnya kehilangan dapat diramalkan atau diketahui sehingga dapat diantisipasi reaksi dari kehilangan tersebut.

3. Kesehatan

Kesehatan adalah bila seseorang berfungsi normal, kesehatan seseorang tergantung atas bagaimana seseorang beradaptasi terhadap kehilangan. Koping yang efektif akan menghasilkan respon yang normal akibat dari kehilangan.

4. Lingkungan

Interaksi yang terjadi di dalam suatu masyarakat, yang mana meliputi lingkungan keluarga, sosial, lingkungan kerja dan lingkungan perawatan kesehatan. Respon individu di kaji berdasarkan hasil interaksi individu terhadap norma-norma sosial. (Eakes, Burke, & Hainsworth, 1998)

C. Dampak Kehilangan

1. Masa kanak-kanak

a. Mengancam kemampuan anak untuk berkembang

b. Kadang – kadang regresi

c. Merasa takut ditinggalkan dibiarkan kesepian

2. Remaja dan dewasa muda

a. Disintegrasi dalam keluarga

b. Kematian pada orang tua “wajar“

3. Dewasa tua

a. Kematian pasangan

b. Masalah kesehatan meningkat

D. Berduka (Grieving)

Berduka adalah reaksi emosi terhadap kehilangan, biasanya akibat perpisahan dimanifestasikan dalam perilaku, perasaan dan pemikiran.

E. Reaksi kehilangan & berduka

1. KUBLER – ROSS’ MODEL

Kubler Ross (1969) mengemukakan 5 tahapan pada berduka :

a. Menolak (denial)

b. Marah (anger)

c. Tawar menawar (bargaining)

d. Depresi (depression)

e. Menerima (acceptance)

2. Faktor-faktor yang mempengaruhi kehilangan dan berduka

a. Sumber Personal dan stressor

Setiap orang melalui situasi kehilangan dengan kombinasi khusus pada sumber personal dan stressor seperti :

1. Keterampilan koping

2. Pengalaman sebelumnya dengan kehilangan

3. Kestabilan emosi

4. Agama

5. Family developmental stage

6. Status sosial ekonomi

b. Sumber Sosial Kultural dan Stressor

Sumber sosial kultural meliputi dukungan sosial yang didapatkan dari keluarga, teman, teman sekerja dan lembaga formal

TINJAUAN KASUS PEMBAHASAN

A. Kasus

An.S seorang wanita umur 9 tahun sejak kecil mengalami Retardasi mental sekarang dia sekolah di SLB kelas III, kemajuan yang didapat belum menunjukkanhal- hal lebih baik, masih harus dibantu oleh keluarga terutama ibunya dalam hal berpakaian, makan, toilet, mandi belum bisa mandiri masih harus dibantu. Ibunya kadang dengan senang hati membantu anaknya, namun kadang merasa jenuh, marah-marah, kadang menyesal mempunyai anak seperti bila An.S susah untuk diatur, apalagi sekarang An.S telah mengalami menarche tentu saja perawatan ketika haid harus diberikan tetapi namanya An.S emang susah untuk diatur ibunya semakin khawatir dengan keadaan tersebut takut terjadi apa-apa, khawatir dengan pergaulannya, kebersihannya apalagi sekarang ibunya sering mengalami migrain, kadang tekanan darah naik.

B. Analisis Teori Chronic Sorrow

Teori ini menghubungkan konsep dasar chronic sorrow yang murni dari Olshansky dengan dengan model stress adaptasi dari Lazarus dan Folkman

1. Tingkat Kejelasan (Clarity)

Teori ini secara jelas menggambarkan fenomena yang terjadi pada area klinik ketika terjadi kehilangan. Diagnosa keperawatan Chronic sorrow juga terdapat pada nursing textbook yang diartikan sebagai sesuatu yang berkelanjutan, berulang (kambuh) dan potensial menjadi progresif. Kondisi yang muncul pada teori ini konsisten dengan apa yang ada pada teori. Konsep kunci dan hubungan antar konsep juga diartikan secara jelas.Hubungan antar konsep juga berdasarkan intuisi. Sebagai contoh, jelas bahwa manajemen yang efektif baik internal maupun eksternal, akan menghasilkan kenyamanan dan sebaliknya manajemen yang tidak efektif akan meningkatkan ketidaknyamanan dan intensitas dari duka cita yang kronis. Sebagai kelompok middle range, wilayah teori dibatasi pada penjelasan satu fenomena, respon kehilangan dan hal ini sesuai dengan pengalaman praktik klinik. Seperti yang dinyatakan oleh Eakes, keunggulan dari middle range teori ini memberi penjelasan secara benar bagi praktisi perawat, pelajar/ mahasiswa perawat dan pendidik sebagai bukti komunikasi yang berkelanjutan secara nasional dan internasional

Satu aspek yang belum jelas dari teori ini adalah penjelasan tentang mengapa tidak semua individu dengan ketidakmampuan mengatasi kehilangan mengalami chronic sorrow. Beberapa, sekalipun pandangan, wawancara NCRCS tidak berpengalaman dalam menjelaskan gejala chronic sorrow. Tidak ada data lebih jauh yang bisa membuktikan tentang individu yang tidak mengalami kronik sorrow ini, apakah mereka memiliki karakteristik kepribadian yang berbeda, misalnya memiliki ketabahan, atau mereka menerima intervensi yang berbeda saat mengalami kehilangan? Apa data yang diinginkan dari individu terkait koping dengan kehilangan yang terus menerus.

Konsep lain yang perlu dilakukan klarifikasi adalah perkembangan (progress) dari chronic sorrow. Meskipun digambarkan bahwa chronic sorrow potensial berkembang, apa perkembangannya dan apakah perkembangannya secara alami menjadi patologis?

Perlu klarifikasi strategi manajemen internal. Dalam hal ini belum jelas perbedaan problem oriented dengan cognitive strategies. Demikian juga emotive-cognitive, emotional dan strategi interpersonal belum digambarkan secara jelas. Beberapa overlap yang nyata antara manajemen internal dan eksternal terjadi ketika kata “interpersonal” digunakan untuk menggambarkan bantuan professional

Teori ini memiliki kesamaan dengan teori lainnya, yakni memandang bahwa fokus dari perawatan adalah individu, keluarga (caregiver), kelompok (peer group), hanya kurang memandang masyarakat yang dalam kondisi chonic sorrow ini bisa dijadikan sebagai support system (manajemen eksternal), teori ini hanya memandang profesi kesehatan sebagai sumber manajemen eksternal untuk meningkatkan kenyamanan melalui peran empatik, pengajaran, caring dan memberikan asuhan yang profesional.

2. Tingkat Kesederhanaan (SIMPLICITY)

Model teori Chronic Sorrow memperjelas pemahaman hubungan antara variabel. Melalui model ini, jelas bahwa chronic sorrow terjadi terus menerus secara alami, menyebar dan potensial berkembang. Lebih jauh dengan subkonsep internal versus manajemen eksternal dan manajemen inefektif versus manajemen efektif, ini jelas apa tipe pengkajian dan intervensi yang tepat oleh perawat dan pemberi pelayanan kesehatan lainnya, apa yang terbaik untuk mencegah chronic sorrow menjadi progressif. Dengan jumlah variabel yang terbatas, teori ini lebih mudah dimengerti. Sebagai kelompok middle range, teori ini berguna untuk panduan praktik dan desain penelitian selanjutnya

3. Tingkat Generalitas

Konsep chronic sorrow dimulai dengan studi pada orang tua dengan anak yang mengalami gangguan fisik atau kognitif. Melalui pembuktian secara empiris, teori diperluas untuk memasukkan berbagai pengalaman dari kehilangan. Teori ini menerapkan secara jelas bagaimana rentang kehilangan dan dapat diaplikasikan untuk mempengaruhi individu seperti halnya pemberi perawatan. Sebagai tambahan, teori ini berguna untuk berbagai praktisi pelayanan kesehatan. Dengan konsep ini keunikan yang alami dari pengalaman digambarkan kurang luas seperti halnya pemicu. Pemicu dan strategi manajemen unik pada setiap situasi individu dan bisa diaplikasikan pada situasi yang lebih beragam

4. Ringkasan Empiris

Karakteristik dari middle range teori, wilayahnya yang terbatas akan lebih mudah bagi peneliti untuk mempelajari fenomena. Dengan jumlah variabel yang terbatas, peneliti dapat melakukan generalisasi hipotesa berhubungan dengan studi pada intervensi keperawatan yang meningkatkan efektivitas strategi manajemen pada chronic sorrow. Hasil dari studi ini dapat menambah kekuatan dasar pada praktik berdasarkan hasil pembuktian (evidence based practice)

Karena teori ini berasal dari pembuktian secara empiris, maka kegunaannya jelas untuk penelitian lebih lanjut. Definisi yang jelas dari chronic sorrow membuat hal ini dapat dipelajari pada individu dengan kehilangan yang beragam dan situasi yang umumnya menghasilkan chronic sorrow. Melalui penelitian yang lebih lanjut, peneliti dapat memikirkan alat pengkajian untuk perawat klinik

5. Konsekuensi Yang Diperoleh

Sebagai konsekuensi dari penelitian, penomena dari chronic sorrow dapat diterima lebih luas dapat dibuktikan pada diagnosa NANDA. Perawat dan pemberi pelayanan kesehatan profesional lain menemukan validitas pada pengalaman kehilangan pada area klinik.Eakes menyatakan “chronic sorrow sama halnya dengan pengalaman hamil ini merupakan proses normal dimana klien mendapatkan keuntungan bantuan dan support dari tenaga kesehatan profesional (G.Eakes, personal communication, December 2004).Secara lebih jauh Eakes bahwa pengalaman ini unik pada masing- masing individu dan pada masing- masing situasi.

C. Asuhan Keperawatan

  1. Pengkajian

a. Tahap perkembangan ;

- An.S berada pada umur 9 tahun mengalami penurunan pada perkembangan mental

- An.S sudah memgalami Menarche

- Ibunya berada dalam chronic sorrow selama 9 tahun

b. Kebudayaan/ kebiasaan-kebiasaan ; Kebutuhan sehari- hari dibantu

oleh ibunya

c. Kepercayaan/ spiritual; Ibunya memang sudah pasrah kepada Tuhan

yang Maha esa, namun kadang merasa putus asa dan menyesal mempunyai anak seperti itu

d. Kondisi sosial ekonomi sebagai support sistem ; Keluarga An.S orang

yang cukup berada terbukti An.S disekolahkan di SLB

e. Kondisi psikologis :

- Ibu mengalami chronic sorrow, merasa jenuh, kadang menyesal

dengan keadaan anaknya

- Ibunya ketakutan terhadap An.S karena sudah mengalami

menarche, takut dan khawatir terhadap kebersihan ketika datang bulan dan pergaulannya

2. Diagnosa Keperawatan

a. Tidak efektif koping keluarga

b. Kurang pengetahuan keluarga tentang tumbuh kembang anak berhubungan dengan kurangnya informasi

3. Rencana Tindakan

a. Tidak efektif koping keluarga

1) Bantu keluarga mengenal masalah yang terjadi dalam keluarga

2) Bantu keluarga mengidentifikasi cara menelesaikan masalah yang sudah dilakukan

3) Bantu keluarga memilih alternatif pemecahan masalah secara sehat

4) Latih keterampilan keluarga dalam manajemen konflik

5) Komunikasi terbuka dan memenuhi kebutuhan anggota keluarga yang bermasalah

b. Kurang Pengetahuan keluarga tentang tumbuh kembang anak berhubungan dengan kurangnya informasi

1) Kaji tingkat pengetahuan keluarga tentang tumbuh kembang anak

2) Berikan pendidikan kesehatan tentang tumbuh kembang anak

3) Libatkan orang tua dalam meningkatkan kesehatan anak

4) Bantu klien dalam memperoleh pengetahuan

D AFTAR PUSTAKA

Alligood-Tomey, A. (2006). Nursing theorists and their work. Sixth edition. Toronto: Mosby

Kozier, B & Erb. (2000). Fundamental of Nursing. St Louis Toronto : Mosby Company.

Patricia, AP & Anne, GP.(1996). Fundamental of Nursing. St. Louis Toronto : Mosby Company

Perry & Potter, (2005). Fundamental Keperawatan Konsep, Proses dan Praktik, Edisi 4 Volume 1, EGC : Jakarta

Perry & Potter, (2006). Fundamental Keperawatan Konsep, Proses dan Praktik, Volume 2, Edisi 4, EGC : Jakarta